100% ORIGINAL
Buku Usman Janatin Dan Harun Tohir, Kisah Perjuangan Pahlawan Dwikora | Arif Saefudin | Buku Sejarah
Rincian Produk
| Penulis | : Arif Saefudin |
| Penerbit | : Deepublish |
| Kategori | : Sosial & Humaniora |
| Sub Kategori | : Sejarah |
| ISBN | : 978-602-475-855-4 |
| Ukuran | : 13×19 cm |
| Isi Kertas | : BW |
| Cover | : Soft Cover |
| Halaman | : xiv, 151 hlm |
| Tahun | : 2018 |
| Berat | : 200 gram |
| SKU | : DP02598B |
| Ketersediaan | : Ada |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 71.000 |
| Harga Promo | : Rp 63.100 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Buku Usman Janatin dan Harun Tohir, Kisah Perjuangan Pahlawan Dwikora | Sejarah mencatat, hubungan antara Indonesia dan Malaysia pernah mengalami masa kelam dengan puncak perselisihan yang tajam. Perselisihan dua negara satu rumpun melayu ini diawali dari rencana pembentukan Federasi Malaysia yang diinisiasi oleh Inggris. Presiden Sukarno sangat menentang pembentukan itu. Menurutnya, pembentukan negara federasi itu adalah sebuah bentuk neo-kolonilaisme dan neo-imperialisme (nekolim). Penolakan Presiden Sukarno inilah yang menyebabkan konfrontasi berjalan begitu menarik dan sengit. Segala potensi negeri dikerahkan untuk melancarkan aksi penentangan yang dinamakan, Ganyang Malaysia. Puncaknya, Presiden Sukarno mengeluarkan sebuah komando untuk mengagalkan negara “boneka” itu: Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Perang yang tak dideklarasikan ini juga diwarnai dengan perjuangan diplomasi. Frederick P.
Bunnel menggambarkan kebijakan politik yang diambil Presiden Sukarno ini sebagai confrontation diplomacy, yaitu suatu campuran manuver yang bersifat berani, cerdik dan tidak dapat diduga. Kecerdikan inilah yang dipakai untuk mengembalikan wilayah Irian Barat dari tangan Belanda. Tak sesukses di Irian Barat, kebijakan ini berakhir meskipun tak diakhiri oleh Presiden Sukarno sendiri. Memang sebelum berakhir era konfrontasi, kursi kekuasaan Presiden Sukarno telah berganti dibawah komando Jenderal Soeharto tahun 1966. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) menjadi tonggak utama.
Ditengah situasi konfrontasi yang hampir diakhiri itu, muncul sosok yang menjadi “tumbal” masa Dwikora. Dialah Janatin alias Usman bin Haji Muchamad Ali dan Tohir alias Harun bin Said. Mereka merupakan anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) yang rela menjadi sukarelawan Dwikora. Dengan jiwa patriotisme nya, tugas yang diembannya dilaksanakan dengan segenap jiwa raga.
Bunnel menggambarkan kebijakan politik yang diambil Presiden Sukarno ini sebagai confrontation diplomacy, yaitu suatu campuran manuver yang bersifat berani, cerdik dan tidak dapat diduga. Kecerdikan inilah yang dipakai untuk mengembalikan wilayah Irian Barat dari tangan Belanda. Tak sesukses di Irian Barat, kebijakan ini berakhir meskipun tak diakhiri oleh Presiden Sukarno sendiri. Memang sebelum berakhir era konfrontasi, kursi kekuasaan Presiden Sukarno telah berganti dibawah komando Jenderal Soeharto tahun 1966. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) menjadi tonggak utama.
Ditengah situasi konfrontasi yang hampir diakhiri itu, muncul sosok yang menjadi “tumbal” masa Dwikora. Dialah Janatin alias Usman bin Haji Muchamad Ali dan Tohir alias Harun bin Said. Mereka merupakan anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) yang rela menjadi sukarelawan Dwikora. Dengan jiwa patriotisme nya, tugas yang diembannya dilaksanakan dengan segenap jiwa raga.
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.