100% ORIGINAL
Buku Sepatu, Buku Tulis, Dan Kaleng Biskuit | Wihasto Suryaningtyas | Buku Puisi
Rincian Produk
| Penulis | : Wihasto Suryaningtyas |
| Penerbit | : Bukunesia |
| Kategori | : Fiksi |
| Sub Kategori | : Puisi |
| ISBN | : 978-623-8350-34-6 |
| Ukuran | : 14×20 cm |
| Isi Kertas | : Black White |
| Cover | : Soft Cover |
| Halaman | : viii, 161 hlm |
| Tahun | : 2023 |
| Berat | : 300 gram |
| SKU | : BN00128 |
| Ketersediaan | : Pesan Dahulu |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 180.000 |
| Harga Promo | : Rp 147.200 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Buku Sepatu, Buku Tulis, dan Kaleng Biskuit
Tidak ada hal yang heroic atau memukau dalam catatan saya ini. Ini hanyalah serpihan ingatan yang telah membekas dalam benak saya 20 tahun lalu saat mendapatkan kesempatan memimpin sebuah “pasukan kecil” di sebuah puskesmas kecil. Banyak hal kecil yang sering lupa kita sadari sesadar-sadarnya menggunakan seluruh alam kesadaran kita bahwa mereka sebenarnya adalah hal yang besar yang perlu kita renungi.
Tulisan ini mengajak kita untuk melambatkan sejenak kecepatan berjalan kita agar dapat memberi ruang yang cukup untuk merenungi hal-hal yang sering terlewat saat berjalan dengan cepat. Hal-hal kecil di sekeliling kita saat kita berangkat ke sekolah, bekerja, atau beraktivitas yang lain. Saat kita berjalan lambat, kita dapat menikmati balok-balok paving beton, aspal, jalan tanah, debu di jalan, dan garis-garis yang menghiasinya. Semak dan perdu yang menyeruak di tepi jalan sering kita abaikan saat berjalan cepat dan seringkali telah mengering saat kita menyadari keberadaannya. Urusan kita tentang laporan yang belum selesai, proyek yang makin mendekati tenggat, masalah urgen yang perlu penyelesaian segera, rapat yang harus dihadiri, atau tugas dari atasan yang harus dilaporkan kemajuannya adalah prioritas yang lebih penting untuk dipikirkan. Tenggat terus memburu sehingga taka da waktu untuk berjalan lambat.
Sepatu, buku tulis, dan sebuah kaleng biscuit adalah perwakilan dari hal-hal yang sering kita anggap harus ada dalam keseharian kita. Sesuatu yang dengan mudah kita dapat ketika kita membutuhkannya. Namun, bagi banyak anak di negeri ini, mereka adalah sebuah kemewahan. Kemewahan yang seringkali mengajak kita untuk menyadari bahwa kebahagiaan mereka sangat sederhana. Kesederhanaan yang menyadarkan kita akan arti bersyukur akan apa yang telah kita miliki. Serpihan ingatan itu membekas di antara telapak kaki mereka di tanah berlumpur, di antara baris kosong di sudut buku mereka, di sudut kaleng biscuit yang warnanya sudah memudar.
Buku Sepatu, Buku Tulis, dan Kaleng Biskuit ini diterbitkan oleh Bukunesia.
Tidak ada hal yang heroic atau memukau dalam catatan saya ini. Ini hanyalah serpihan ingatan yang telah membekas dalam benak saya 20 tahun lalu saat mendapatkan kesempatan memimpin sebuah “pasukan kecil” di sebuah puskesmas kecil. Banyak hal kecil yang sering lupa kita sadari sesadar-sadarnya menggunakan seluruh alam kesadaran kita bahwa mereka sebenarnya adalah hal yang besar yang perlu kita renungi.
Tulisan ini mengajak kita untuk melambatkan sejenak kecepatan berjalan kita agar dapat memberi ruang yang cukup untuk merenungi hal-hal yang sering terlewat saat berjalan dengan cepat. Hal-hal kecil di sekeliling kita saat kita berangkat ke sekolah, bekerja, atau beraktivitas yang lain. Saat kita berjalan lambat, kita dapat menikmati balok-balok paving beton, aspal, jalan tanah, debu di jalan, dan garis-garis yang menghiasinya. Semak dan perdu yang menyeruak di tepi jalan sering kita abaikan saat berjalan cepat dan seringkali telah mengering saat kita menyadari keberadaannya. Urusan kita tentang laporan yang belum selesai, proyek yang makin mendekati tenggat, masalah urgen yang perlu penyelesaian segera, rapat yang harus dihadiri, atau tugas dari atasan yang harus dilaporkan kemajuannya adalah prioritas yang lebih penting untuk dipikirkan. Tenggat terus memburu sehingga taka da waktu untuk berjalan lambat.
Sepatu, buku tulis, dan sebuah kaleng biscuit adalah perwakilan dari hal-hal yang sering kita anggap harus ada dalam keseharian kita. Sesuatu yang dengan mudah kita dapat ketika kita membutuhkannya. Namun, bagi banyak anak di negeri ini, mereka adalah sebuah kemewahan. Kemewahan yang seringkali mengajak kita untuk menyadari bahwa kebahagiaan mereka sangat sederhana. Kesederhanaan yang menyadarkan kita akan arti bersyukur akan apa yang telah kita miliki. Serpihan ingatan itu membekas di antara telapak kaki mereka di tanah berlumpur, di antara baris kosong di sudut buku mereka, di sudut kaleng biscuit yang warnanya sudah memudar.
Buku Sepatu, Buku Tulis, dan Kaleng Biskuit ini diterbitkan oleh Bukunesia.
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.
