100% ORIGINAL
Buku Seolah Tak Nyata | Ambiya Febrianka Putri dkk | Buku Cerpen
Rincian Produk
| Penulis | : Ambiya Febrianka Putri, Hawa Nida Karimah, Geofarrel Ibrahim Al-Ghazali, Aniq Zayn Naqiyyah Mutsla, Irfan Ghani Sulaiman [dan 8 lainnya] |
| Penerbit | : Bukunesia |
| Kategori | : Fiksi |
| Sub Kategori | : Cerpen |
| ISBN | : 766-27-06-24-9468 |
| Ukuran | : 14×20 cm |
| Isi Kertas | : Black White |
| Cover | : Soft Cover |
| Halaman | : viii, 60 hlm |
| Tahun | : 2024 |
| Berat | : 300 gram |
| SKU | : BN00187 |
| Ketersediaan | : Pesan Dahulu |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 45.000 |
| Harga Promo | : Rp 37.900 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Buku Seolah Tak Nyata
Aku beruntung hidup di tengah keluarga besar yang ngangenin. Setiap tahun kami pasti berkumpul di rumah nenek. Aku, bersama tiga sepupu, Ghina, Aira, dan Adit, sudah tidak sabar menunggu tibanya waktu berkumpul, karena kami punya ritual sendiri, yang dilarang diganggu siapa pun.
Selesai melakukan ritual, satu per satu dari kami tertidur. Tetapi aku menyempatkan ke toilet, dan teror pun dimulai.
Jujur aku ketakutan tapi berusaha mengabaikan. Paling sugesti, begitu pikirku.
Pukul 02.00 dini hari, seluruh keluarga besar dibuat panik. Ghina dan Aira penyebabnya. Mereka teriak histeris, mengeluarkan suara aneh. Semua dibikin bingung, kecuali aku.
Aku tahu dua sepupuku mendapat teror yang sama denganku. Teror kedua.
Ternyata teror itu masih berlanjut hingga ketiga, padahal kami sudah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan rumah nenek yang kembali sunyi.
Akankah teror yang menggerayangi Ambiya berlalu?
Aku beruntung hidup di tengah keluarga besar yang ngangenin. Setiap tahun kami pasti berkumpul di rumah nenek. Aku, bersama tiga sepupu, Ghina, Aira, dan Adit, sudah tidak sabar menunggu tibanya waktu berkumpul, karena kami punya ritual sendiri, yang dilarang diganggu siapa pun.
Selesai melakukan ritual, satu per satu dari kami tertidur. Tetapi aku menyempatkan ke toilet, dan teror pun dimulai.
Jujur aku ketakutan tapi berusaha mengabaikan. Paling sugesti, begitu pikirku.
Pukul 02.00 dini hari, seluruh keluarga besar dibuat panik. Ghina dan Aira penyebabnya. Mereka teriak histeris, mengeluarkan suara aneh. Semua dibikin bingung, kecuali aku.
Aku tahu dua sepupuku mendapat teror yang sama denganku. Teror kedua.
Ternyata teror itu masih berlanjut hingga ketiga, padahal kami sudah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan rumah nenek yang kembali sunyi.
Akankah teror yang menggerayangi Ambiya berlalu?
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.
