100% ORIGINAL
Buku Merajut Tinta Di Atas Perahu | Dina Auliatil Wahyuni | Buku Puisi
Rincian Produk
| Penulis | : Dina Auliatil Wahyuni |
| Penerbit | : Bukunesia |
| Kategori | : Fiksi |
| Sub Kategori | : Puisi |
| ISBN | : 978-623-8350-41-4 |
| Ukuran | : 14×20 cm |
| Isi Kertas | : Black White |
| Cover | : Soft Cover |
| Halaman | : vi, 155 hlm |
| Tahun | : 2023 |
| Berat | : 300 gram |
| SKU | : BN00145 |
| Ketersediaan | : Pesan Dahulu |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 100.000 |
| Harga Promo | : Rp 82.400 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Buku Merajut Tinta di Atas Perahu
Dengan semua yang aku rasakan, semua yang aku terima membuat aku semakin sadar bahwa aku telah sejauh ini merajut tinta di atas perahu. Perahu ini sempat berhenti di tengah lautan, di atas heningnya ombak, terbesit hati ini untuk membanting setir arah kembali, namun ntah mengapa tinta ini masih saja belum menginginkan mengakhiri cerita, tetap saja dengan labuhnya rajutan tinta menghalangi langkah rapuh asa.
Aku tidak bisa apa-apa tanpa Allah berikan aku kuasa, bagaimana mungkin lahir dari keluarga yang bukan bermayoritas muslim membuat aku terarahkan di saat Islam telah kuputuskan menjadi keyakinanku, mencari kebenaran tanpa mengenal perselisihan, berbagai pertanyaan mengupas satu persatu jawaban, dengan keyakinan menghapus setiap keraguan, perahu ini akan terus berlabuh menuai segala kebenaran, karena semua hikmah selalu di balik tabir cobaan.
Ibarat sebuah perahu yang sedang mengangkut beban berat yang begitu besar, dan keadaan setiap barang yang tidak memungkinkan diemban ukuran perahu untuk membawanya, namun lagi-lagi rasa percaya sendiri mendustai kekuatan perahu, dengan paksa tetap saja menampung barang-barang yang ada, dan hasilnya tidak ada barang yang terselamatkan melainkan diri pun terhanyut bersamaan dalam sedalamnya lautan.
Bukan kah kita pun sedang berbicara? Dalam waktu tanpa jeda dipaksa tertata? Belum saja luka itu reda datanglah cinta meminta, tak tahu apakah ini pelipur lara? Ataukah peluang di bagian lain yang akan terluka? Izinkan aku merajut tinta-tinta mengatasnamakan indahnya kuasa-Mu. Berlabuhnya perahu Islam, sebagai pilar kehidupanku.
Dengan semua yang aku rasakan, semua yang aku terima membuat aku semakin sadar bahwa aku telah sejauh ini merajut tinta di atas perahu. Perahu ini sempat berhenti di tengah lautan, di atas heningnya ombak, terbesit hati ini untuk membanting setir arah kembali, namun ntah mengapa tinta ini masih saja belum menginginkan mengakhiri cerita, tetap saja dengan labuhnya rajutan tinta menghalangi langkah rapuh asa.
Aku tidak bisa apa-apa tanpa Allah berikan aku kuasa, bagaimana mungkin lahir dari keluarga yang bukan bermayoritas muslim membuat aku terarahkan di saat Islam telah kuputuskan menjadi keyakinanku, mencari kebenaran tanpa mengenal perselisihan, berbagai pertanyaan mengupas satu persatu jawaban, dengan keyakinan menghapus setiap keraguan, perahu ini akan terus berlabuh menuai segala kebenaran, karena semua hikmah selalu di balik tabir cobaan.
Ibarat sebuah perahu yang sedang mengangkut beban berat yang begitu besar, dan keadaan setiap barang yang tidak memungkinkan diemban ukuran perahu untuk membawanya, namun lagi-lagi rasa percaya sendiri mendustai kekuatan perahu, dengan paksa tetap saja menampung barang-barang yang ada, dan hasilnya tidak ada barang yang terselamatkan melainkan diri pun terhanyut bersamaan dalam sedalamnya lautan.
Bukan kah kita pun sedang berbicara? Dalam waktu tanpa jeda dipaksa tertata? Belum saja luka itu reda datanglah cinta meminta, tak tahu apakah ini pelipur lara? Ataukah peluang di bagian lain yang akan terluka? Izinkan aku merajut tinta-tinta mengatasnamakan indahnya kuasa-Mu. Berlabuhnya perahu Islam, sebagai pilar kehidupanku.
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.