100% ORIGINAL
Buku Matur Membara | Delfitri Munir | Buku Umum
Rincian Produk
| Penulis | : Delfitri Munir |
| Penerbit | : Bukunesia |
| Kategori | : Kategori Lainnya |
| Sub Kategori | : Kategori |
| ISBN | : 978-623-8796-96-0 |
| Ukuran | : 14×20 cm |
| Isi Kertas | : Black White |
| Cover | : Soft Cover |
| Halaman | : xiv, 161 hlm |
| Tahun | : 2024 |
| Berat | : 300 gram |
| SKU | : BN00327 |
| Ketersediaan | : Pesan Dahulu |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 102.000 |
| Harga Promo | : Rp 84.000 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Perang adalah seburuk-buruknya penyelesaian masalah. Tak ada perang yang tak meninggalkan duka dan luka.
Kepuasan “mungkin” hanya ada pada mereka yang “menciptakan” perang itu sendiri.
Perang PRRI telah banyak meninggalkan nestapa di Ranah Minang. Puluhan rumah musnah terbakar habis, serta harta pusaka yang lenyap diterpa oleh perang … perang ….
Apalagi …, perang saudara tidak mengenal lagi siapa lawan, dan siapa kawan.
Konflik PRRI itu pula yang telah melenyapkan jejak hilangnya seorang bayi laki-laki dari Ranah Minang yang sebelumnya selalu damai ini.
Kepastian bahwa bayi itu masih hidup diperoleh dari pengakuan ibu kandungnya sendiri yang terluka parah di saat kejadian berdarah di Matur.
Di tengah amukan api dan desingan peluru itulah, ternyata ada sepasang tangan telah menyelamatkan sang bayi dari pangkuan ibunya yang sedang pingsan bersimbah darah.
Ada seorang dokter muda telah melakukan pelacakan yang melelahkan. Dia juga sedang mencari siapa dirinya sesungguhnya.
Sementara itu ada keluarga dari seorang pasien rumah sakit jiwa telah mengungkap tragedi di Nagari Matur yang begitu dahsyat serta meninggalkan jejak yang begitu pilu.
Sengketa pasti akan meninggalkan duka, dan perang yang pasti akan menyisakan luka. Luka dan duka itu sekarang menyatu, berada di sini, di Ranah Minang yang dulunya selalu damai.
Namun di balik prahara itu pula telah “hadir” untaian cinta asmara yang menyatukan dua hati.
“Sugi mau melamar Dewi, Ma.” Isak Dewi sambil memeluk lengan mamanya.
Kepuasan “mungkin” hanya ada pada mereka yang “menciptakan” perang itu sendiri.
Perang PRRI telah banyak meninggalkan nestapa di Ranah Minang. Puluhan rumah musnah terbakar habis, serta harta pusaka yang lenyap diterpa oleh perang … perang ….
Apalagi …, perang saudara tidak mengenal lagi siapa lawan, dan siapa kawan.
Konflik PRRI itu pula yang telah melenyapkan jejak hilangnya seorang bayi laki-laki dari Ranah Minang yang sebelumnya selalu damai ini.
Kepastian bahwa bayi itu masih hidup diperoleh dari pengakuan ibu kandungnya sendiri yang terluka parah di saat kejadian berdarah di Matur.
Di tengah amukan api dan desingan peluru itulah, ternyata ada sepasang tangan telah menyelamatkan sang bayi dari pangkuan ibunya yang sedang pingsan bersimbah darah.
Ada seorang dokter muda telah melakukan pelacakan yang melelahkan. Dia juga sedang mencari siapa dirinya sesungguhnya.
Sementara itu ada keluarga dari seorang pasien rumah sakit jiwa telah mengungkap tragedi di Nagari Matur yang begitu dahsyat serta meninggalkan jejak yang begitu pilu.
Sengketa pasti akan meninggalkan duka, dan perang yang pasti akan menyisakan luka. Luka dan duka itu sekarang menyatu, berada di sini, di Ranah Minang yang dulunya selalu damai.
Namun di balik prahara itu pula telah “hadir” untaian cinta asmara yang menyatukan dua hati.
“Sugi mau melamar Dewi, Ma.” Isak Dewi sambil memeluk lengan mamanya.
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.