100% ORIGINAL
Buku Manusia Biru | Kris Saputri | Buku Puisi
Rincian Produk
| Penulis | : Kris Saputri |
| Penerbit | : Bukunesia |
| Kategori | : Fiksi |
| Sub Kategori | : Puisi |
| ISBN | : 978-623-8620-48-7 |
| Ukuran | : 14×20 cm |
| Isi Kertas | : Black White |
| Cover | : Soft Cover |
| Halaman | : vi, 143 hlm |
| Tahun | : 2024 |
| Berat | : 300 gram |
| SKU | : BN00199 |
| Ketersediaan | : Pesan Dahulu |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 94.000 |
| Harga Promo | : Rp 77.600 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Buku Manusia Biru
Terinspirasi dari majalah, Abdul kecil bermimpi ingin menjadi manusia biru di SMA Magelang. Masuk sekolah di sana tidak gampang, harus mengikuti berbagai tes. Cita-citanya itu tidak tercapai dan harus menjalani hidup dalam pilihan kedua, di SMA Unggulan Tapanuli. Di SMA, Abdul bertemu dengan teman- temannya, Tama sahabatnya sejak SD, Gomgom dari Samosir, Naldo dari Asahan, Saiful dari Maninjau, dan Pono dari Papua. Suatu hari dalam kegiatan Napak Tilas Sejarah mereka pergi ke daerah Barus namun tertinggal dari rombongan. Kehadiran Abdul dan teman-temannya yang bertepatan dengan bencana banjir dianggap membawa sial oleh Kelompok Wak Geng dan menyebarkan rumor dari mulut ke mulut.
Hingga akhirnya Abdul dan teman-temannya berhasil membuat warga percaya bahwa mereka bukanlah pembawa sial. Mereka menyusun rencana membuat Festival Barus dan membantu Barus untuk kembali dikenal oleh daerahnya sendiri. Takdir memang belum membawanya melihat keajaiban dunia di Magelang karena saat ini masih ada keajaiban dunia yang sangat perlu dia perhatikan melalui manusia biru, Barus.
Terinspirasi dari majalah, Abdul kecil bermimpi ingin menjadi manusia biru di SMA Magelang. Masuk sekolah di sana tidak gampang, harus mengikuti berbagai tes. Cita-citanya itu tidak tercapai dan harus menjalani hidup dalam pilihan kedua, di SMA Unggulan Tapanuli. Di SMA, Abdul bertemu dengan teman- temannya, Tama sahabatnya sejak SD, Gomgom dari Samosir, Naldo dari Asahan, Saiful dari Maninjau, dan Pono dari Papua. Suatu hari dalam kegiatan Napak Tilas Sejarah mereka pergi ke daerah Barus namun tertinggal dari rombongan. Kehadiran Abdul dan teman-temannya yang bertepatan dengan bencana banjir dianggap membawa sial oleh Kelompok Wak Geng dan menyebarkan rumor dari mulut ke mulut.
Hingga akhirnya Abdul dan teman-temannya berhasil membuat warga percaya bahwa mereka bukanlah pembawa sial. Mereka menyusun rencana membuat Festival Barus dan membantu Barus untuk kembali dikenal oleh daerahnya sendiri. Takdir memang belum membawanya melihat keajaiban dunia di Magelang karena saat ini masih ada keajaiban dunia yang sangat perlu dia perhatikan melalui manusia biru, Barus.
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.