100% ORIGINAL
Buku Sejarah Pemimpin Dan Pemerintahan Biduk-Biduk “Melawan Lupa” | Juliardi | Buku Sejarah
Rincian Produk
| Penulis | : Juliardi |
| Penerbit | : Deepublish |
| Kategori | : Sosial & Humaniora |
| Sub Kategori | : Sejarah |
| ISBN | : 978-623-02-1403-5 |
| Ukuran | : 17.5×25 cm |
| Isi Kertas | : BW |
| Cover | : Soft Cover |
| Halaman | : x, 75 hlm |
| Tahun | : 2020 |
| Berat | : 300 gram |
| SKU | : DP04134A |
| Ketersediaan | : Ada |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 63.000 |
| Harga Promo | : Rp 56.100 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Buku Sejarah Pemimpin dan Pemerintahan Biduk-Biduk “Melawan Lupa” Biduk-Biduk banyak menyimpan sejarah yang terlupakan. Salah satunya adalah sosok berjiwa pemimpin yang bijaksana dan adil. I Lada bin Puang Gala atau yang lebih dikenal dengan Raja Muda Batu Putih merupakan sosok yang menggantikan Raja Alam, Sultan Muhammad Alimuddin, Kesultanan Sambaliung untuk sementara waktu di Tanjung Buaya pada tahun 1834-1837 Masehi. Pada awal tahun 1800 M, I Lada pergi meninggalkan Kerajaan Belawa, Wajo ke Kalimantan bersama para punggawa, dayang, dan para ulama yang disebut Perjalanan Rombongan 40. Di dalam perjalanan menuju Kalimantan, rombongan 40 ini menyinggahi beberapa tempat atau wilayah, seperti Tanjung Mangkaliat, Tanjung Buaya, dan persinggahan kapal terakhir mereka adalah di Tanah Kuning, Bulungan, Kaltara. Dalam rombongan tersebut terjadi pernikahan antara suku Bugis dan suku Banjar di daerah persinggahan di Tanah Kuning.
Kemudian, rombongan tersebut melanjutkan perjalanan masuk ke wilayah kerajaan Berau dan bersatu hingga menetap di wilayah Tanjung Buaya. Mereka akhirnya bersatu dengan Kesultanan Sambaliung untuk melawan Belanda dan Jepang. Pada tahun 1838 M, Raja Muda Batu Putih pindah dan menetap di wilayah Tanjung Mangkaliat atau yang sekarang dikenal dengan nama Biduk-Biduk hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di sana.
Kemudian, rombongan tersebut melanjutkan perjalanan masuk ke wilayah kerajaan Berau dan bersatu hingga menetap di wilayah Tanjung Buaya. Mereka akhirnya bersatu dengan Kesultanan Sambaliung untuk melawan Belanda dan Jepang. Pada tahun 1838 M, Raja Muda Batu Putih pindah dan menetap di wilayah Tanjung Mangkaliat atau yang sekarang dikenal dengan nama Biduk-Biduk hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di sana.
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.