100% ORIGINAL
Buku Rambutku Memang Lurus, Kulitku Juga Putih Tetapi Hati Dan Pikiranku Keriting | Hariman Dahrif | Buku Sosial
Rincian Produk
| Penulis | : Hariman Dahrif |
| Penerbit | : Deepublish |
| Institusi | : - |
| Kategori | : Sosial & Humaniora |
| Sub Kategori | : Sosial |
| ISBN | : 978-602-401-617-3 |
| Ukuran | : 14×20 cm |
| Isi Kertas | : BW |
| Cover | : Soft Cover |
| Halaman | : x, 322 hlm |
| Tahun | : 2016 |
| Berat | : 800 gram |
| SKU | : DP01304A |
| Ketersediaan | : Ada |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 97.000 |
| Harga Promo | : Rp 85.600 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Program pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Provinsi Papua bukan baru dilaksanakan. Tercatat jauh sebelum Papua berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia upaya dan usaha tersebut sudah dilakukan. Tahun 1926 di Miemi, Teluk Wondama telah berdiri sekolah modern pertama di Tanah Papua oleh Pendeta J.S Kyene. Mantan Gubernur Freddy Numberi dalam bukunya (Keajaiban Pulau Owi, 2008), menyebutnya sebagai tonggak sejarah peradaban pertama bagi orang Papua dalam pengembangan SDM. Bahkan jauh sebelum itu, dalam masyarakat tradisional suku Biak, mereka memiliki pranata lokal yang disebut “Rumsram” sebagai tempat atau wadah mendidik anak-anak mereka, terutama anak laki-laki kelak setelah mereka beranjak dewasa. Kemudian, ketika Belanda mengkolonisasi wilayah ini perhatian kepada pengembangan SDM orang asli Papua pun tidak ketinggalan. Pemerintah Hindia Belanda melakukan perubahan kebijakan dibandingkan dengan ketika mengkolinisasi wilayah lainnya di Indonesia. Di Papua mereka mendirikan sekolah-sekolah berpola asrama, antara lain di wilayah teluk, ada di Korido dan di pegunungan terdapat di Tiom. Pascaintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pengembangan SDM di Papua sudah diletakkan sebagai embrio melalui program pengembangan putra-putri Irian Jaya yang disiapkan sebagai cikal bakal SDM aparatur mengisi gerbang birokrasi pemerintahan di Papua pada dekade tahun 1960 s/d 1970-an (Djopari, 1992). Bahkan Kemudian, ketika Belanda mengkolonisasi wilayah ini perhatian kepada pengembangan SDM orang asli Papua pun tidak ketinggalan. Pemerintah Hindia Belanda melakukan perubahan kebijakan dibandingkan dengan ketika mengkolinisasi wilayah lainnya di Indonesia. Di Papua mereka mendirikan sekolah-sekolah berpola asrama, antara lain di wilayah teluk, ada di Korido dan di pegunungan terdapat di Tiom. Pascaintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pengembangan SDM di Papua sudah diletakkan sebagai embrio melalui program pengembangan putra-putri Irian Jaya yang disiapkan sebagai cikal bakal SDM aparatur mengisi gerbang birokrasi pemerintahan di Papua pada dekade tahun 1960 s/d 1970-an (Djopari, 1992).
Berikut Daftar Isi Buku Sosial Politik berjudul Buku Rambutku Memang Lurus, Kulitku Juga Putih Tetapi Hati dan Pikiranku Keriting, diantaranya:
Berikut Daftar Isi Buku Sosial Politik berjudul Buku Rambutku Memang Lurus, Kulitku Juga Putih Tetapi Hati dan Pikiranku Keriting, diantaranya:
- Merentang Asa
- Menebar Peluang
- Melawat Papua
- Mengukuhkan Integritas Bangsa
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.



