100% ORIGINAL
Buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada
Rincian Produk
| Penulis | : Rajabbul Amin |
| Penerbit | : Deepublish |
| Bidang Ilmu | : Sosial Budaya |
| Kategori | : Sosial & Humaniora |
| Sub Kategori | : Sosiologi |
| ISBN | : 978-634-01-1413-3 |
| Ukuran | : 14×20 cm (A5) |
| Isi Kertas | : HVS |
| Cover | : Softcover |
| Halaman | : xviii, 157 hlm |
| Tahun | : 2025 |
| Berat | : 200 gram |
| SKU | : DP12901A |
| Ketersediaan | : Ada |
| Kondisi | : Baru |
| Harga Normal | : Rp 112.000 |
| Harga Promo | : Rp 94.999 |
Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Deskripsi Buku
Buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada
Buku Sosial Budaya yang berjudul Buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada merupakan karya Rajabbul Amin. Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar lahir dari pengalaman pribadi penulis, yang kerap mendengar pertanyaan menggelitik, “Kepulauan Riau itu di Riau, kan?” atau “Itu hanya Batam, ya?” Dari kegelisahan itulah buku ini ditulis sebagai ikhtiar memperkenalkan tanah kelahiran penulis yang kaya budaya, namun sering luput dari perhatian. Orkestrasi yang dialunkan dalam buku ini, ibarat mengusir kegelapan dengan nada-nada indah yang mengunggah rasa dan jiwa pembacanya, sebagai pelipur lara masyarkat yang rindu akan pengetahuan kebudayaan secara luas, yang terkemas lewat seni pantun, pembahasan seni musik, seni tari dan seni lainnya. Bumi segantang lada sejatinya adalah ruang yang kaya seni dan budaya, bukan sebatas tradisi, namun sebuah ungkapan rasa sebagai alat komunikasi dan diplomasi, dimana setiap urusan dapat terselesaikan dengan secangkir kopi. Dalam konteks bumi segantang lada sebagai bagian dari wilayah maritim yang kaya tradisi dan kearifan local komunikasi tidak sekadar dipahami sebagai proses penyampaian pesan, melainkan juga sebagai ruang pewarisan nilai, peneguhan identitas, serta pembentukan harmoni sosial.
Di setiap halaman, Anda akan diajak menyelami cara masyarakat Melayu pesisir berkomunikasi: pantun yang penuh nasihat, sapaan yang menjaga marwah, hingga tradisi yang tumbuh di antara pelantar kayu dan hembusan angin laut. Buku ini mengikat masa lalu dan masa kini, menghadirkan kembali cerita-cerita kecil yang membentuk wajah budaya Kepulauan Riau. Buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada sangat cocok bagi masyarakat pecinta budaya yang ingin mengenal lebih dalam jati diri bangsa dari tepian lautnya.
Berikut Daftar Isi Buku Sosial Budaya yang berjudul Buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada, diantaranya:
- Kata yang Mengalir di Atas Ombak
- Suara Pantun, Irama Hati Melayu
- Marwah di Balik Sapaan
- Bunyi tak Sekadar Musik
- Permainan Rakyat, Sekolah Kehidupan
- Tradisi yang Berbicara Lewat Gerak
- Cerita yang Tidak Pernah Usang
- Di Warung Kopi, Kata-Kata Mengalir Bebas
- Ketika Pulau Bertemu Dunia Digital
- Persaudaraan dalam Ragam Warna Budaya
- Pulau yang Bertutur, Warisan yang Menyala
Buku Sosial Budaya yang berjudul Buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada merupakan karya Rajabbul Amin. Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar lahir dari pengalaman pribadi penulis, yang kerap mendengar pertanyaan menggelitik, “Kepulauan Riau itu di Riau, kan?” atau “Itu hanya Batam, ya?” Dari kegelisahan itulah buku ini ditulis sebagai ikhtiar memperkenalkan tanah kelahiran penulis yang kaya budaya, namun sering luput dari perhatian. Orkestrasi yang dialunkan dalam buku ini, ibarat mengusir kegelapan dengan nada-nada indah yang mengunggah rasa dan jiwa pembacanya, sebagai pelipur lara masyarkat yang rindu akan pengetahuan kebudayaan secara luas, yang terkemas lewat seni pantun, pembahasan seni musik, seni tari dan seni lainnya. Bumi segantang lada sejatinya adalah ruang yang kaya seni dan budaya, bukan sebatas tradisi, namun sebuah ungkapan rasa sebagai alat komunikasi dan diplomasi, dimana setiap urusan dapat terselesaikan dengan secangkir kopi. Dalam konteks bumi segantang lada sebagai bagian dari wilayah maritim yang kaya tradisi dan kearifan local komunikasi tidak sekadar dipahami sebagai proses penyampaian pesan, melainkan juga sebagai ruang pewarisan nilai, peneguhan identitas, serta pembentukan harmoni sosial.
Di setiap halaman, Anda akan diajak menyelami cara masyarakat Melayu pesisir berkomunikasi: pantun yang penuh nasihat, sapaan yang menjaga marwah, hingga tradisi yang tumbuh di antara pelantar kayu dan hembusan angin laut. Buku ini mengikat masa lalu dan masa kini, menghadirkan kembali cerita-cerita kecil yang membentuk wajah budaya Kepulauan Riau. Buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada sangat cocok bagi masyarakat pecinta budaya yang ingin mengenal lebih dalam jati diri bangsa dari tepian lautnya.
Berikut Daftar Isi Buku Sosial Budaya yang berjudul Buku Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada, diantaranya:
- Kata yang Mengalir di Atas Ombak
- Suara Pantun, Irama Hati Melayu
- Marwah di Balik Sapaan
- Bunyi tak Sekadar Musik
- Permainan Rakyat, Sekolah Kehidupan
- Tradisi yang Berbicara Lewat Gerak
- Cerita yang Tidak Pernah Usang
- Di Warung Kopi, Kata-Kata Mengalir Bebas
- Ketika Pulau Bertemu Dunia Digital
- Persaudaraan dalam Ragam Warna Budaya
- Pulau yang Bertutur, Warisan yang Menyala
Info Hemat: Pembelian secara langsung/offline melalui WhatsApp akan lebih murah karena tidak ada biaya admin platform.